2.3.a.10 Laporan Aksi Nyata Coaching

A.     Latar Belakang

Menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan adalah upaya untuk memerdekakan manusia secara utuh. Manusia telah dibekali kodrat yang pastinya berbeda satu dengan yang lainnya. Kodrat ini yang menjadi kekuatan dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu, bisa hal yang baik maupun buruk tergantung pada perlakuan yang diberikan selama dalam hidupnya. Dimana perlakuan ini yang bisa memicu menjadi kebiasaan, berubah menjadi budaya dan karakter diri. Tentu saja ini menjadi sebuah kekhawatiran jika karakter yang muncul nantinya adalah karakter yang merusak diri sendiri bahkan orang lain.

Ki Hadjar Dewantara memberikan penekanan bahwa sebagai guru hendaknya bisa mengoptimalkan kekuatan kodrat dalam diri anak. Pendidikan menurut beliau bertujuan untuk menjadikan manusia yang bahagia, aman dan bijaksana. Oleh karena itu hendaknya guru dapat menyesuaikan pembelajaran yang dilaksanakan dengan kekuatan yang dimiliki murid-muridnya.

Dalam rangka penyesuaian ini guru perlu melakukan pemetaan kekuatan murid. Apa saja yang dimilikinya (bakat dan minatnya), bagaimana kesiapan belajarnya, serta profil murid. Seringkali dalam pelaksanaannya juga sering guru menemui permasalahan baik itu berhubungan dengan murid, rekan sejawat, atasan, wali murid atau piha luar sekolah. Permasalahan ini menimbulkan beban fisik hingga mental yang bisa mempengaruhi kinerja guru di sekolah. Untuk menyelesaikan masalah ini bisa dilakukan dengan pendekatan coaching. Coaching terdiri dari beberapa tahapan yang disebut juga dengan tahap TIRTA, yaitu Tanyakan, Identifikasi Masalah, Rencana Tindakan, Tanggung jawab terhadap keputusan.

 

B.     Tujuan Tindakan Aksi Nyata

Tujuan dari tindakan aksi nyata ini adalah membantu rekan guru untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi dengan memaksimalkan potensi yang dimiliki.

 

C.      Pelaksanaan

Kegiatan aksi nyata coaching ini dilaksanakan pada tanggal Rabu, 18 Mei 2022 pada saat Pendampingan Individu ke-4 di sekolah oleh Pengajar Praktik yaitu Ibu Mu’minatul Hasanah, E.S.,S.P.. Dalam praktik ini saya berperan sebagai coach dan rekan saya Bu Silmi sebagai coachee. Berikut ini adalah penjelasan dari setiap tahapan coaching model TIRTA:

Bu Silmi menemui saya sebagai coach berharap supaya masalah yang menjadi beban beliau ini bisa lebih ringan dan terselesaikan. Beliau mengeluhkan tentang salah satu muridnya yaitu Ega yang selalu membuat masalah di kelas. Anak tersebut sering memicu keributan di kelas sehingga membuat pembelajaran berlangsung tidak maksimal. Selain itu tugas-tugasnya sering tidak tuntas menyebabkan nilainya menjadi kurang baik dibanding teman-temannya.

Setelah mencoba mengidentifikasi masalah, saya mencoba untuk menuntun beliau merencanakan aksi tindakan yang mungkin dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini. Saya juga menanyakan tentang kemungkinan keberhasilan tindakan yang diputuskannya. Bu Silmi berencana untuk melakukan tindakan berikut ini:

1.       Menasihati murid yang bersangkutan

2.       Berkomunikasi dengan wali kelas 2

3.       Menghubungi dan meminta ijin untuk bertemu dengan wali murid

4.       Meminta sahabatnya untuk membantunya belajar menghapalkan surat dan juga tugas pelajaran Agama yang lainnya.

Saya juga menanyakan tentang estimasi waktu dari setiap langkah solusi yang telah disusun. Direncanakan oleh beliau setidaknya sebelum ujian PAT terlaksana sudah terselesaikan masalahnya.

D.     Rencana Tindak Lanjut

Tahap akhir coaching model TIRTA yaitu Tanggung jawab terhadap komitmen yang telah dibuat. Dalam hal ini coachee berkomitmen untuk melaksakan 4 aksi tindakan dalam membantu mengatasi masalah yang sedang dihadapi saat ini. Rencananya, coachee meminta saya sebagai coach untuk memantau perkembangan masalah ini sebelum ujian PAT dilaksanakan.

 

E.      Dokumentasi



Terima kasih sudah menyimak sampai akhir.
Semoga bermanfaat ^_^

Salam Guru Penggerak!
Salam dan bahagia!