SESI 1 “KIAT SUKSES BAGI PARA PENDIDIK UNTUK BERKOMUNIKASI DENGAN PUBLIK”

Narasumber Charles Bonar Sirait, S.E., M.M.

 


Teknologi hari ini sangat memudahkan para guru untuk dapat menunjukkan eksistensinya, mempublikasikan karyanya dan memberikan pengaruh kepada orang lain di forumnya. Teknologi hari ini juga seolah memaksa kita untuk bisa lebih dikenal di media public. Membuat kita harus belajar untuk menguasai ilmu komunikasi. Ya! Meskipun kita adalah seorang guru.

 

Beginilah gambaran komunikasi di jaman dulu. Pengirim pesan yang mengirimkan pesannya melalui kaleng bekas. Media pesan berupa tali. Pesan terkirim melalui tali. Sedangkan satu orang lagi berperan sebagai penerima pesan. Dari gambar tersebut terlihat bahwa pesan tersebut hanya satu arah, terbatas hanya orang tertentu yang mendapatkan pesan tersebut. Di masa sekarang? Dengan satu penyampai pesan atau informasi, dengan kekuatan teknologi pesan tersebut da[at tersampaikan kepada satu, dua, ratusan bahkan jutaan orang atau lebih. Di sinilah menjadi poin utama bahwa komunikasi begitu dahsyat untuk dapat mempengaruhi orang banyak dalam waktu yang singkat dengan menjangkau tempat yang lebih luas.

Kalau di jaman dulu, yang disebut pasar adalah tempat dimana berkumpulnya orang untuk melakukan suatu transaksi jual beli. Pasarnya hanya itu saja tidak ada variasi. Kita mau medapatkan informasi penting harus bertemu dengan tokoh tertentu. Misalnya ingin tahu cerita sejarah bertanya kepada orang tua atau guru di sekolah. Dengan demikian informasi sangatlah terbatas tidak dapat diperoleh secara bebas. Dimana berkumpulnya orang itulah pasarnya. Itulah kolamnya.

 

 Nah, di jaman sekarang, yang dinamakan pasar itu adalah hal yang sangat dinamis. Contoh seperti di dunia pendidikan ini, anak itu juga merupakan pasar. Di mana mereka saat ini memiliki lebih banyak guru selain di sekolahnya. Siapa gurunya? Ya, mereka menjadikan Instagram, Facebook, Youtube dan aplikasi lainnya sebagai guru mereka. Artinya, informasi apapun dari yang tidak penting hingga penting, hiburan hingga ketakutan semuanya dapat mereka dapatkan dengan mudah melalui aplikasi tersebut. Bagaimana dengan guru? Tentu saja guru akan bisa kehilangan sosok pentingnya di mata anak-anak jika guru sendiri tidak dapat mengeksplor dirinya dan berusaha terkenal seperti aplikasi tersebut. Oleh karena itu, penting sekali bagi kita sebagai seorang pendidik untuk memahami ilmu komunikasi sederhana untuk dapat menarik perhatian anak didik dan benar-benar menganggap kita “ada”.

Bagi kaum milenial, agaknya teaching itu kurang diterima jika kita akan memberikan atau menyampaikan suatu opini. Mereka lebih nyaman dengan kata sharing, berbagi. Dengan sharing, kesannya lebih soft dan bisa diterima sehingga tidak sungkan. Selain itu kata-kata sharing bisa membuat peserta tidak merasa sedang digurui meskipun sebenarnya pemateri sedang memberikan opini tertentu.

Nah, sebagai guru sebenarnya kita sudah sering melakukan publik speaking dihadapan murid-murid di kelas. Berbicara di depan orang lain sudah menjadi makanan sehari-hari. Namun mengapa sering terjadi kegugupan, tidak tenang ketika diminta untuk berbicara di depan banyak orang lain dalam suatu forum tertentu? Hal ini berhubungan dengan bertatapan dengan mata orang lain. Menurut bang Bonar, cara mengatasinya adalah berlatih dan terus berlatih. Dengan berlatih akan menjadi bisa dan terbiasa. “Practise makes perfect” begitulah menurutnya.

Beliau mengandaikan bahwa guru juga sama seperti pembawa acara. Menyampaikan pesan kepada orang lain membutuhkan nilai estetis yang tinggi sehingga dapat menarik perhatian. Pemilihan busana, kerapian, gaya Bahasa, ekspresi dan lain-lain yang menunjang komunikasi efektif harus tetap dilakukan dan diupayakan dengan baik. Tentu saja tidak dapat instan, semuanya berproses dengan belajar dan latihan terus menerus. Ketenangan dalam berbicara di depan orang lain tetap perlu kita pelihara supaya tidak terlihat groginya tapi tetap bisa tertawa, menunjukkan ekspresi dan mempengaruhi orang. Selalu menggunakan kalimat Tanya untuk bisa mempengaruhi orang lain.

Personal Branding

Apa itu personal branding? Pada intinya adalah usaha untuk mempublikasikan diri kepada khalayak. Siapa saya sebenarnya yang berdasarkan postingan-postingan di media social. Menjamurnya aplikasi media sosial belakangan ini menjadi kesempatan kita sebagai guru untuk menunjukkan diri kita. Caranya adalah melakukan posting terhadap hal-hal yang kita lakukan sehari-hari. Tema yang linier misalnya seorang guru maka postingannya berkaitan dengan pembelajaran, baik itu dikemas dalam bentuk tulisan, video, podcast, karya berupa media dan banyak contoh yang lainnya. Intinya konsistensi postingan itulah yang akan membuat kita dikenal orang lain sebagai apa.

Tidak hanya pengusaha. Guru harus berusaha memperkuat personal branding supaya menjadi “terkenal”. Ya! Karena orang hanya dapat dipengaruhi oleh orang lain salah satu kunci terbesarnya adalah karena orang tersebut berpengaruh, terkenal atau populer. Menjadi popular itu penting tapi harus didukung dengan kompetensi. Orang popular jika dia tidak berkompeten tentu saja menjadi sia-sia. Popularitas dan kompetensi haruslah seimbang dan seorang guru harus dapat mengusahakannya dengan baik supaya dapat mencapai komunikasi yang baik.