3.1.a.9 Koneksi Antarmateri

Oleh Galih Harsul Lisanti, S.Pd.

CGP Angkatan 4 116A Kab. Tulungagung

“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”
(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert

Salam Guru Penggerak!

Tak terasa telah sampai di modul terakhir Program Pendidikan Guru Penggerak (PPGP) submodul 3.1 Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran. Teringat tahun lalu saat akan mengikuti program ini ada rasa was was tidak bisa menyelesaikan dengan tuntas dan keraguan yang lainnya. Alhamdulillah Allah SWT menuntun hingga hari ini bisa sampai di modul ini untuk belajar lebih tentang bagaimana seorang pemimpin bisa menyelesaikan masalahnya dengan penuh tanggung jawab. Sebuah hadits shahih tentang kewajiban belajar :

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ .

Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim.”

[Hadits shahih li ghairihi, diriwayatkan Ibnu Majah (no. 224), dari jalur Anas bin Malik radhiyallahu’anhu.

Bahwa setiap individu adalah pemimpin bagi dirinya sendiri dan guru adalah salah satu pemimpin yang perannya tidak main-main dalam upaya mewujudkan Indonesia unggul di masa depan. Maka ijinkan saya Galih Harsul Lisanti, S.Pd. seorang pendidik di SD Negeri 3 Mojosari, Kauman, Tulungagung yang saat ini mendapat kesempatan bergabung sebagai CGP Angkatan 4 kelas 116A untuk membagikan pengalaman belajar dari modul 3.1 ini dan mengaitkannya dengan konsep-konsep pada modul sebelumnya. Berikut adalah hasil analisis saya tetang koneksi antarmateri pada modul 3.1.a.9.

  1. Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?


Sebagaimana kita ketahui, Raden Mas Suwardi Soeryaningrat atau lebih dikenal dengan Ki Hadjar Dewantara (KHD) menggagas konsep Pratap Triloka, yaitu ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

Ing ngarsa sung tuladha memiliki arti bahwa di depan harus memberi contoh, teladan, pengajaran yang baik untuk anak didiknya. Peran guru tidak hanya sekedar menjadi salah satu sumber pengetahuan namun agen pembentuk karakter anak, dimana ini artinya guru harus bisa memberikan contoh yang baik (tutur kata, sifat, karakter, hubungan sosial, pribadi yang sopan santun dan akhlak yang baik). 

Ing madya mangun karsa memiliki arti bahwa di tengah menjadi pribadi yang menciptakan ide atau prakarsa. Sebagai guru hendaknya bisa memompa semangat siswanya untuk belajar. Belajar akademik maupun non akademik. Belajar tentang sifat, karakter sehingga bisa memahami bahwa setiap manusia berbeda.

Tut wuri handayani memiliki arti bahwa seorang pendidik di belakang harus dapat memberikan dorongan atau semangat kepada siswanya. Tak bosan guru harus senantiasa menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman dan menyenangkan sehingga siswa dapat termotivasi untuk terus belajar. Pun demikian seorang guru harus terus belajar karena memang prinsip belajar hakekatnya adalah belajar sepanjang hayat. Ketika siswa memiliki guru yang rasa ingin tahunya tinggi, mau terus belajar dan berprestasi maka siswa pun akan merasa bangga dan termotivasi untuk melakukan hal yang sama.

Dalam posisi manapun, guru memegang peran yang utama sebagai pendidik untuk membantu mewujudkan karakter murid yang unggul. Tentu untuk melayani kebutuhan murid yang beragam dan mewujudkan karakter tersebut guru haruslah terampil dalam pengambilan keputusan yang bertanggung jawab dan berdampak pada murid. Dalam pengambilan keputusan ini, guru harus dapat memegang teguh 3 prinsip utama yakni berdampak pada murid, nilai-nilai yang diunggulkan serta keputusan yang bertanggung jawab. Guru juga mengenal dan menerapkan paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip penyelesaian dilema serta 9 langkah pengambilan keputusan.

  1. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Sejatinya, di dalam diri tiap manusia memiliki nilai-nilai luhur yang kemudian menggerakkan seseorang untuk berbuat sesuai nilai, norma, etika dalam hidup bermasyarakat. Nilai-nilai hidup tersebut seperti yang telah dipelajari pada modul 1 yang lalu yaitu mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid menjadi dasar untuk guru dalam proses pengambilan keputusan.



Dengan berpedoman pada nilai, maka akan memicu seseorang untuk berpikir dengan lebih hati-hati, seksama, cermat untuk mengambil keputusan ketika sedang berada pada posisi dilema etika maupun saat ragu untuk memilih benar melawan salah atau bujukan moral.

Karena seperti yang kita ketahui, guru pun tak lepas dari masalah baik itu berupa dilema etika maupun bujukan moral yang datang dari murid, rekan guru, atasan hingga masyarakat secara umum. Oleh sebab itu guru perlu menguasai keterampilan sosial emosial yaitu kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, keterampilan berinteraksi sosial serta pengambilan keputusan yang bertanggung jawab sehingga dapat meminimalisir kesalahan atau masalah baru yang akan terjadi.

  1. Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Klik link berikut untuk melihat Praktik Coaching dengan Rekan Sejawat

Klik link berikut untuk melihat Praktik Coaching dengan Murid

Kegiatan terbimbing coaching sangat membantu coachee dalam proses pengambilan keputusan. Pada konteks pendidikan, coaching membantu guru untuk menuntun murid-murid menjadi pembelajar yang merdeka yang mampu mengidentifikasi masalahnya, menemukan solusi, merencanakan tindakan penyelesaian dan bertanggung jawab untuk melaksanakan solusi tindakan yang telah direncanakan.

Coaching adalah proses yang sangat penting untuk menemukan potensi diri, mengenali kelemahan dan kekuatan diri yang seringkali saat seseorang sedang berada dalam masalah tidak mampu mengenali kekuatan dirinya, adanya ketakutan, keraguan dan hal lainnya sehingga membuat seseorang tidak mampu menguasai diri dan mengambil keputusan yang tidak bertanggung jawab. Nah, supaya hal-hal yang tidak diinginkan ini terjadi di kemudian hari maka guru perlu memahami coaching dan TIRTA sebagai salah satu tekniknya untuk membantu murid mengenali dirinya lebih dini sehingga kelak bisa tumbuh menjadi generasi yang unggul yang mampu mengambil keputusan dengan bijaksana penuh tanggung jawab.



  1. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?


Seperti yang disinggung pada poin sebelumnya bahwa dalam proses pengambilan keputusan ada proses guru mengelola dirinya dan menyadari aspek sosial emosionalnya. Kita mengetahui bahwa emosi seseorang selalu dinamis. Hal yang perlu dilakukan adalah supaya perubahan emosi tersebut tetap pada jalurnya sehingga ketika seseorang berada dalam masalah bisa tetap menyelesaikannya dengan bijaksana. Itulah pentingnya guru untuk menguasai keterampilan sosial emosional. Mulai dari pengenalan diri yaitu kesadaran diri (self awareness) seperti melakukan teknik STOP saat sedang berada dalam kondisi emosi tinggi supaya mampu mengelola diri (self management) sehingga bisa menyadari bahwa dirinya merupakan makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain (social awareness), mampu melaksanakan perannya untuk berhubungan baik dengan orang lain (relationship skills) sehingga jika dalam masalah bisa mengambil keputusan yang bijak dan bertanggung jawab.

Ketika guru mampu mengelola dan menyadari kondisi dirinya, maka ia akan lebih siap, percaya diri dan berani untuk mengambil resiko dan menghadapi konsekuensi dari keputusan yang diambilnya karena sudah pasti setiap keputusan akan selalu ada pihak yang dikorbankan. Namun demikian selalu diupayakan supaya keputusan yang diambil memiliki tujuan utama untuk keberpihakan pada murid. 

  1. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Dilema etika ataupun bujukan moral adalah hal yang sering terjadi dan membuat seorang guru kadang bisa stress dibuatnya. Kembali lagi bahwa guru memiliki nilai-nilai positif dalam dirinya. Secara mandiri guru menyadari akan kondisinya, merefleksikan apa yang telah terjadi padanya, berkomunikasi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak yang mungkin terkait dengan dilema etika/bujukan moral yang dialami untuk berdiskusi mewujudkan keputusan yang bertanggung jawab. Dengan terus berlatih dan sering terlibat dalam proses pengambilan keputusan maka seorang guru akan mendapatkan pengalaman yang di kemudian hari bisa digunakan untuk acuan pengambilan keputusan selanjutnya. Guru akan makin terampil dan cepat dalam memutuskan sesuatu.

  1. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Sebagai seorang pemimpin kita sering dihadapkan pada situasi yang harus mengambil keputusan namun banyak menemui kesulitan karena lingkungan yang kurang mendukung, bertentangan dengan peraturan/ masyarakat, orientasi yang berbeda dan lain sebagainya. Tidak akan mudah untuk membuat seseorang percaya akan keputusan yang kita ambil karena cara pandang yang berbeda. Oleh karena itu di modul ini diberikan tipas bagaimana dapat melakukan proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab dengan memahami apakah masalah yang dihadapi bmerupakan dilema etika (benar lawan benar) atau bujukan moral (benar lawan salah). Kemudian memahami paradigma pengambilan keputusan yaitu :

·         Individu lawan masyarakat (individual vs community)

·         Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

·         Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

·         Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Prinsip pengambilan keputusan seperti :

·         Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

·         Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

·         Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Serta 9 langkah pengujian pengambilan keputusan yaitu :

1)     Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan

2)     Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini

3)     Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan

4)     Pengujian benar atau salah (uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji publikasi, uji panutan/idola)

5)     Pengujian paradigma dilema etika

6)     Melakukan prinsip resolusi

7)     Investigasi opsi Trilema

8)     Buat keputusan

9)     Melihat lagi keputusan yang diambil dan direfleksikan.

  1. Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Menurut saya kesulitan-kesulitan itu masih ada karena pada umumnya pengambilan keputusan terkadang tidak melibatkan guru atau warga sekolah lainnya, adanya perbedaan pandangan sehingga sulit untuk mengambil kesepakatan. Selain itu prinsip kekeluargaan atau kesetiakawanan yang terkadang menimbulkan rasa kasihan dalam mengambil keputusan.

  1. Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Saya merasa terbantu dengan mempelajari modul ini. sebab ini adalah pengalaman pertama saya untuk belajar bagaimana mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Di sini saya juga dituntut untuk mampu berkolaborasi meningkatkan keterampilan komunikasi sehingga membantu meningkatkan kesadaran diri, kesadaran sosial, memperbaiki hubungan sosial/keterampilan relasi dengan orang lain dalam hal ini warga sekolah, atasan, murid, wali murid dan masyarakat secara umum. Selain itu saya juga belajar bahwa dalam memainkan peran sebagai seorang guru maka setiap permasalahan yang ada haruslah diambil kebijakan yang berdampak bagi murid, bukan mementingkan diri sendiri atau golongan tertentu namun bagaimana supaya murid aman, nyaman dan bahagia belajar di sekolah kita sebab guru adalah pelayan bagi rajanya (muridnya).  

  1. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Guru sebagai pemimpin pembelajaran memiliki peran sentral dalam mewujudkan murid yang berkarakter unggul. Dengan memahami perbedaan kebutuhan yang dimiliki murid, guru akan lebih mudah memetakan muridnya. Pemetaan ini berfungsi untuk memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Pemetaan ini juga berungsi sebagai salah satu dasar dalam pengambilan keputusan. Selain itu, guru juga mampu menuntun muridnya menjadi pembelajar yang merdeka dalam menemukan kelemahan dan kekuatan dirinya untuk mencapai mimpi/harapan di masa depan. Tentu guru yang mampu melayani muridnya disesuaikan dengan pemetaan kebutuhan akan dapat mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yang berkualitas yang lebih berdampak pada murid. Ini juga dapat mewujudkan well being sekolah untuk masa depan yang lebih baik.

  1. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Hal yang dapat saya simpulkan dari materi pembelajaran modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran terkait dengan modul-modul sebelumnya adalah saling terkait dan tidak bisa dipisahkan begitu saja dalam konteks pendidikan di sekolah. Berpijak dari pendapat Ki Hadjar Dewantara, pendidikan bertujuan untuk menuntun segala proses dan kodrat/potensi anak untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan baik untuk dirinya sendiri atau sebagai manusia di masyarakat.

Untuk mencapai tujuan luhur tersebut guru harus peka untuk mengenali dan memahami kebutuhan belajar muridnya sehingga dapat melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi melalui diferensiasi konten, proses atau produk. Guru hendaknya tetap kuat mengelola kompetensi sosial dan emosional karena tugas guru saat ini tidak hanya mengajar di kelas namun seringkali mendapat tugas tambahan lainnya sehingga perlu menguasai keterampilan sosial emosional seperti kesadarn diri, kesadaran sosial, pengelolaan diri, keterampilan berelasi serta pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

Hal yang tak kalah penting lainnya yaitu, guru perlu menguasai keterampilan coaching sebagai bagian untuk memahami dan menggali potensi murid sehingga murid mampu menyampaikan pendapatnya, mengidentifikasi masalahnya dan kemudian menemukan kelemahan serta kekuatan dirinya sehingga dapat memberikan penguatan serta dukungan untuk menyelesaikan tiap masalah yang dihadapi. Dalam hal ini guru dapat menerapkan teknik TIRTA dengan langkah tetapkan tujuan, identifikasi masalah, rencana tindakan, dan tanggung jawab terhadap keputusan yang diambil.


Dengan memahami beberapa poin utama di atas akan membantu guru untuk mengambil keputusan yang mengunggulkan nilai-nilai kebajikan sehingga bisa mengambil keputusan yang bijaksana dan berdampak pada murid. Sebuah usaha yang mungkin akan banyak menemui kesulitan, namun dengan tekad kuat untuk terus berkomitmen melayani murid dan terus bergerak menjadi bagian dari perubahan maka merdeka belajar akan mudah untuk dilaksanakan sehingga Profil Pelajar Pancasila tidak hanya menjadi tagline belaka namun akan pelan-pelan menjadi kenyataan. Semoga Allah SWT membeerikan kemudahan untuk para pendidik seluruh Indonesia.

Terima kasih sudah menyimak tulisan ini hingga akhir.

Wassalamualaikum wr wb.

Salam Guru Penggerak. Salam dan bahagia!