Refleksi
Terbimbing 1.4.a.6 Budaya Positif
A. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: disiplin positif, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Adakah hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan?
Untuk
membangun budaya yang positif, sekolah perlu menyediakan lingkungan positif
yang aman dan nyaman agar murid mampu berpikir, bertindak dan mencipta dengan
merdeka, mandiri dan bertanggung jawab. Salah satu strategi yang perlu ditinjau
ulang adalah bentuk disiplin yang selama ini di sekolah kita meninjau teori
restitusi Diane Gossen. Menurut Diane Gossen dalam bukunya Restructing School
Discipline menyatakan ada 3 alasan motivasi perilaku manusia, yaitu :
a. Untuk
menghindari ketidaknyamanan atau hukuman
b. Untuk
mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain
c. Untuk
menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan
nilai-nilai yang mereka percaya
Ki
Hadjar Dewantara menuturkan bahwa, “...dimana ada kemerdekaan, di situlah harus
ada disiplin yang kuat. Sungguh pun disiplin itu bersifat self discipline yaitu kita
sendiri yang mewajibkan kita dengan sekeras-kerasnya, tetapi itu sama saja;
sebab jikalau kita tidak cakap melakukan self
discipline, wajiblah penguasa lain mendisiplinkan kita. Dan peraturan
demikian itulah harus ada di dalam suasana yang merdeka.
Keyakinan Kelas
Keyakinan
berbeda dengan peraturan. Keyakinan berisi nilai-nilai kebajikan atau
prinsip-prinsip universal yang disepakati bersama secara universal terlepas
dari latar belakang suku, negara, bahasa maupun agama. Dengan menggunakan kata “keyakinan”
akan membuat seseorang lebih tergerak dan termotivasi untuk menjalankan
keyakinannya, daripada hanya sekedar mengikuti serangkaian peraturan.
·
Keyakinan
kelas bersifat lebih ‘abstrak’ daripada peraturan, yang lebih rinci dan
konkrit.
·
Keyakinan
kelas berupa pernyataan-pernyataan universal.
·
Pernyataan
keyakinan kelas senantiasa dibuat dalam bentuk positif.
·
Keyakinan
kelas hendaknya tidak terlalu banyak, sehingga mudah diingat dan dipahami oleh
semua warga kelas.
·
Keyakinan
kelas sebaiknya sesuatu yang dapat diterapkan di lingkungan tersebut.
·
Semua warga
kelas hendaknya ikut berkontribusi dalam pembuatan keyakinan kelas lewat
kegiatan curah pendapat.
·
Bersedia
meninjau kembali keyakinan kelas dari waktu ke waktu.
Berikut
ini adalah konsep 5 kebutuhan dasar manusia menurut Dr. Willian Glasser dalam “Choice Theory”
a.
Kebutuhan
Bertahan Hidup (Survival)
Kebutuhan
bertahan hidup (survival) adalah kebutuhan yang bersifat fisiologis
untuk bertahan hidup misalnya kesehatan, rumah, dan makanan. Seks sebagai
bagian dari proses reproduksi termasuk kebutuhan untuk tetap bertahan hidup.
Komponen psikologis pada kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan perasaan aman.
b.
Cinta
dan Kasih Sayang (Kebutuhan untuk Diterima)
Kebutuhan ini
dan tiga kebutuhan berikutnya adalah kebutuhan psikologis. Kebutuhan untuk
mencintai dan memiliki meliputi kebutuhan akan hubungan dan koneksi sosial,
kebutuhan untuk memberi dan menerima kasih sayang dan kebutuhan untuk merasa
menjadi bagian dari suatu kelompok. Kebutuhan ini juga meliputi keinginan untuk
tetap terhubung dengan orang lain, seperti teman, keluarga, pasangan hidup,
teman kerja, binatang peliharaan, dan kelompok dimana kita tergabung.
Anak-anak yang
memiliki kebutuhan dasar cinta dan kasih sayang yang tinggi biasanya ingin
disukai dan diterima oleh lingkungannya. Mereka juga akrab dengan orang tuanya.
Biasanya mereka belajar karena suka pada gurunya. Bagi mereka, teman sebaya
sangatlah penting. Mereka juga biasanya suka bekerja dalam kelompok.
c.
Penguasaan
(Kebutuhan Pengakuan atas Kemampuan)
Kebutuhan ini
berhubungan dengan kekuatan untuk mencapai sesuatu, menjadi kompeten, menjadi
terampil, diakui atas prestasi dan keterampilan kita, didengarkan dan memiliki
rasa harga diri. Kebutuhan ini meliputi keinginan untuk dianggap berharga, bisa
membuat perbedaan, bisa membuat pencapaian, kompeten, diakui, dihormati. Ini
meliputi self esteem, dan keinginan untuk meninggalkan pengaruh.
Anak-anak yang
memiliki kebutuhan dasar akan kekuasaan yang tinggi biasanya selalu ingin
menjadi pemimpin, mereka juga suka mengamati sebelum mencoba hal baru dan
merasa kecewa bila melakukan kesalahan. Mereka juga biasanya rapi dan
sistematik dan selalu Ingin mencapai yang terbaik
d.
Kebebasan
(Kebutuhan akan Pilihan)
Kebutuhan untuk bebas adalah kebutuhan akan
kemandirian, otonomi, memiliki pilihan dan mampu mengendalikan arah hidup
seseorang. Anak-anak
dengan kebutuhan kebebasan yang tinggi menginginkan pilihan, mereka perlu
banyak bergerak, suka mencoba-coba, tidak terlalu terpengaruh orang lain dan
senang mencoba hal baru dan menarik.
e.
Kesenangan
(Kebutuhan untuk Merasa Senang)
Kebutuhan akan
kesenangan adalah kebutuhan untuk mencari kesenangan, bermain dan tertawa. Anak-anak
dengan kebutuhan dasar kesenangan yang tinggi biasanya Ingin menikmati apa yang
dilakukan. Mereka juga konsentrasi tinggi saat mengerjakan hal yang disenangi.
Mereka suka permainan dan suka mengoleksi barang, suka bergurau, suka melucu
dan juga menggemaskan, bahkan saat bertingkah laku buruk.
Lima Posisi Kontrol
1.
Penghukum
Seorang penghukum bisa menggunakan hukuman fisik maupun verbal.
Orang-orang yang menjalankan posisi penghukum, senantiasa mengatakan bahwa
sekolah memerlukan sistem atau alat yang dapat lebih menekan murid-murid lebih
dalam lagi.
2.
Pembuat Orang Merasa Bersalah
Pembuat orang
merasa bersalah akan menggunakan keheningan yang membuat orang lain merasa
tidak nyaman, bersalah, atau rendah diri. Di posisi ini murid akan memiliki
penilaian diri yang buruk tentang diri mereka, murid merasa tidak berharga, dan
telah mengecewakan orang-orang disayanginya.
3.
Teman
Guru pada posisi ini tidak akan menyakiti murid, namun akan tetap
berupaya mengontrol murid melalui persuasi. Posisi teman pada guru bisa negatif
ataupun positif. Positif di sini berupa hubungan baik yang terjalin antara guru
dan murid. Guru di posisi teman menggunakan hubungan baik dan humor untuk
mempengaruhi seseorang
4.
Monitor/Pemantau
Seorang pemantau sangat mengandalkan penghitungan, catatan, data
yang dapat digunakan sebagai bukti atas perilaku seseorang. Posisi ini akan
menggunakan stiker, slip catatan, daftar cek. Posisi monitor sendiri berawal
dari teori stimulus-respon, yang menunjukkan tanggung jawab guru dalam
mengontrol murid.
5.
Manajer
Manajer, adalah posisi mentor di mana guru berbuat sesuatu bersama
dengan murid, mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung
murid agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri. Penekanan bukan
pada kemampuan membuat konsekuensi, namun dapat berkolaborasi dengan murid
bagaimana memperbaiki kesalahan yang ada.
Segitiga Restitusi
Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk
memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok
mereka, dengan karakter yang lebih kuat. Restitusi membantu murid menjadi lebih memiliki tujuan, disiplin
positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat salah. Penekanannya bukanlah
pada bagaimana berperilaku untuk menyenangkan orang lain atau menghindari
ketidaknyamanan, namun tujuannya adalah menjadi orang yang menghargai
nilai-nilai kebajikan yang mereka percayai. Sebelumnya kita telah belajar
tentang teori kontrol bahwa pada dasarnya, kita memiliki motivasi intrinsik.
Tahap segitiga restitusi adalah
B. Tuliskan pengalaman Anda dalam menggunakan konsep-konsep inti tersebut dalam menciptakan budaya positif baik di lingkup kelas maupun sekolah Anda.
Pengalaman
saya dalam menggunakan konsep-konsep inti dalam menciptakan budaya positif di
sekolah adalah
1. Membuat
kesepakatan kelas
2. Melakukan
refleksi terhadap kesepakatan kelas yang telah dibuat
3. Melakukan
evaluasi untuk menentukan rencana tindak lanjut
4. Membuat
perubahan
Posisi
kontrol yang sering saya perankan adalah pembuat orang merasa bersalah. Contohnya
saat murid tidak mengerjakan tugas. Pertanyaan yang saya utarakan biasanya “Mengapa kamu tidak mengerjakan tugas?
Bukankah seharusnya tugas dikerjakan di rumah kemarin. Apa kamu lupa harus
mengumpulkan kapan? Saya merasa kecewa dengan kamu. Kan sudah saya ingatkan
bahwa tugas dikumpulkan satu minggu lagi. Kenapa kok tidak mengerjakan?” Dan
lain sebagainya. Seharusnya saya menanyakan alasannya tidak mengerjakan tugas
dan membantunya menemukan solusi mengatasi permasalahannya. Saya tidak sampai
memikirkan demikian. Hal yang saya lakukan berikutnya adalah memintanya untuk
mengerjakan di luar kelas atau memberinya tugas tambahan.
D. Perubahan apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah Anda setelah mempelajari modul ini?
Saya
merasa bahwa selama ini saya belum menjadi guru yang baik yang memberikan
pelayanan maksimal kepada mereka. Saya harus sungguh-sungguh mempelajari
bagaimana menciptakan budaya positif dimulai dengan memahami disiplin positif,
keyakinan kelas, pemenuhan kebutuhan dasar, lima posisi kontrol dan segitiga
restitusi.
E. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran?
Topik Budaya Positif sangat penting untuk dipelajari karena setiap perbuatan baik ataupun buruk di mata kita sebagai guru pastilah ada alasan yang mendorongnya. Oleh karena itu setiap menemui masalah di kelas ataupun sekolah secara umum di sekolah bukanlah tindakan yang pas jika kita langsung mengukumnya, menganggap biasa, hanya memantau atau membuatnya merasa bersalah akan kesalahannya karena bisa menjadi efek buruk bagi perkembangan mental murid. Oleh karena itu penting bagi guru untuk mempelajari bagaiamana dapat mengontrol murid, mampu menjembatani, menuntun tanpa menuntut murid untuk melakukan sesuatu yang kita inginkan atau disebut dengan peran manajer.
F. Apa yang Anda bisa lakukan untuk membuat dampak/perbedaan di lingkungan Anda setelah Anda mempelajari modul ini?
Hal yang dapat saya lakukan adalah segera membuat keyakinan kelas bersama murid dan menerapkan segitiga restitusi setiap menemui masalah dengan murid.
G. Selain konsep-konsep tersebut, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?
Selain poin-poin di atas, hal yang perlu dipelajari dalam menerapkan budaya positif adalah :
1. Merdeka
belajar
2. Keteladanan
3. Pembiasaan
positif
H. Langkah-langkah awal apa yang akan Anda lakukan jika kembali ke sekolah/kelas Anda setelah mengikuti sesi ini?
Langkah konkret untuk menciptakan budaya positif di kelas adalah :
1. Diskusi kelas
menentukan keyakinan kelas
2. Bersama murid
untuk berkomitmen melaksanakan keyakinan kelas
3. Melakukan refleksi,
evaluasi dan tindak lanjut

1 Komentar
Untuk mendidik anak perlu wawasan, bagi yang bukan guru formal makalah ini sangat membantu
BalasHapus