Bapak/Ibu CGP, Eksplorasi konsep untuk Budaya positif terdiri dari beberapa bagian yaitu.
2.1. Perubahan Paradigma -Stimulus Respon lawan Teori Kontrol
CGP dapat memahami miskonsepsi tentang kontrol dan selanjutnya mengadakan perubahan paradigma stimulus-respon menjadi teori kontrol. CGP juga melakukan refleksi atas penerapan praktik disiplin yang dijalankan di sekolahnya.
2.2. Arti Disiplin dan 3 Motivasi Perilaku Manusia
CGP dapat memahami konsep disiplin positif dihubungkan dengan teori motivasi perilaku manusia, serta konsep motivasi internal dan eksternal.
2.3. Keyakinan Kelas, Hukuman dan Penghargaan
CGP dapat memahami pentingnya memiliki keyakinan kelas sebagai fondasi dan arah tujuan sebuah sekolah/kelas, yang akan menjadi landasan dalam memecahkan konflik atau permasalahan di dalam sebuah sekolah/kelas, yang pada akhirnya akan menciptakan budaya positif.
2.4. Lima (5) Kebutuhan Dasar Manusia
CGP memahami bahwa setiap tindakan murid dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka yang berbeda-beda dan agar menjadi individu yang selamat dan bahagia, kebutuhan dasar harus terpenuhi secara positif. CGP memahami bahwa kebutuhan dasar dapat dipenuhi dengan cara positif atau negatif oleh karena itu peran guru adalah memberdayakan anak agar dapat memenuhi kebutuhannya secara positif.
2.5 Lima (5) Posisi Kontrol
CGP dapat melakukan refleksi atas praktik disiplin yang dijalankan selama ini dan dampaknya untuk murid-muridnya. CGP dapat mengetahui dan menerapkan disiplin restitusi di posisi Monitor dan Manajer agar dapat menciptakan lingkungan positif, aman, dan nyaman dan dapat menghasilkan murid-murid yang lebih mandiri, merdeka, dan bertanggung jawab.
2.6 - Segitiga Restitusi
CGP memahami dan menerapkan restitusi melalui tahapan dalam segitiga restitusi sebagai salah satu cara menanamkan disiplin positif pada murid sebagai bagian dari budaya positif di sekolah agar menjadi murid merdeka.
BACA
Tugas 2.1 Perubahan Paradigma -Stimulus Respon lawan Teori Kontrol
- Setelah membaca tentang ilusi kontrol dan perubahan paradigma stimulus respon ke teori kontrol, adakah bagian yang masih mengganjal atau belum Anda pahami?
- Apakah Anda meyakini bahwa tepat untuk meminta murid menyesuaikan diri dengan keinginan Anda, dan bahwasanya adalah tanggung jawab Anda untuk memaksa murid demi suatu kebaikan, adakah cara lain?
1.) Dalam membuat perubahan budaya positif guru bertanggung jawab terhadap murid-muridnya namun guru tidak dapat memaksa muridnya untuk melakukan sebuah perilaku karena memaksa hanya akan membuat konflik jangka panjang, permusuhan akan terbentuk. Orang memiliki pandangan yang berbeda terhadap sesuatu oleh karena itu perlu langkah-langkah strategis dalam membuat perubahan baik kepada murid maupun tenaga pendidik lainnya di sekolah salah satunya dengan aktif berkolaborasi.
2.) Guru tidak dapat memaksa murid, namun hal yang selama ini terjadi adalah ilusi guru mengontrol murid. Murid bisa manut kepada guru karena mereka rela dan mengizinkan dirinya dikontrol oleh guru baik tentang hal yang disukai maupun tidak disukainya. Cara lain yang dapat dilakukan adalah memberikan penguatan positif terhadap pemikiran maupun perilaku murid secara halus sehingga mereka tidak menyadari sedang berproses. Mungkin murid akan menolak atau bisa jadi akan sangat bergantung pada guru untuk berusaha menjadi lebih baik.
TUGAS 2.2 (1)
Niat saya mengikuti PPGP ini tidak lain karena ingin mengembangkan diri. Belajar, menyerap ilmu lebih banyak dari para pegiat pendidikan supaya dapat saya implementasikan di kelas. Saya merasa butuh motivasi ekstrinsik untuk dapat membuat perubahan kelas saya lebih baik. Bukan karena iming-iming hadiah ataupun penghargaan dari rekan atau atasan. Jikalau ada saya merasa hanya sebuah bonus atas perjuangan yang saya lalui. Murid impian yang saya sematkan pada modul 1.3 adalah motivasi saya berikutnya bahwa guru harus terus belajar. Dengan mengikuti PPGP ini saya menikmati proses perubahan dalam diri saya bahwa seorang guru dalam mengajar dan mendidik murid harus memiliki nilai dan memaksimalkan perannya sehingga murid impian di masa depan tidak hanya sekedar angan-angan dan cita-cita kosong namun justru memberikan semangat dalam diri untuk berubah pelan namun pasti, terlihat hasilnya menjadi sebuah budaya positif baru dalam usaha mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.
TUGAS 2.2 (2)
Sebagai seorang guru, saat Anda hadir mengajar di kelas tepat waktu, motivasi apakah yang mendasari tindakan Anda? Apakah Anda datang tepat waktu karena tidak ingin ditegur oleh atasan Anda dan kemudian mendapat surat peringatan (menghindari ketidaknyamanan dan hukuman) atau Anda ingin mendapatkan pujian dari atasan Anda dan mendapat penghargaan sebagai karyawan atau guru berprestasi? (mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain), atau Anda ingin menjadi orang yang menghargai waktu, menghargai diri Anda sendiri sebagai teladan bagi murid-murid Anda karena Anda percaya, tindakan Anda sebagai guru akan dicontoh oleh murid-murid Anda (menghargai nilai-nilai diri sendiri). Manakah motivasi yang paling kuat mendasari tindakan Anda? Atau bahkan kombinasi dari dua motivasi, atau bahkan ketiga-tiganya?
Bagi saya waktu adalah hal yang sangat utama. Layaknya sholat 5 waktu bagi umat muslim, Allah tentu senang dan bangga pada umatnya yang dapat melaksanakan sholat wajib tepat waktu. Saya merefleksi diri saya masih jauh dari sempurna dan konsisten dalam menghargai waktu di sekolah namun saya berupaya untuk lebih baik dari waktu ke waktu melaksanakan amanah baik di rumah maupun di sekolah sehingga harapan saya bisa menjadi teladan bagi anak maupun murid saya di sekolah. Perjuangan untuk mengajar dengan jarak tempuh yang lama, 1 jam membuat saya pun harus hati-hati supaya bisa lebih maksimal dalam melayani murid di sekolah. Tak jarang saya memberikan cerita-cerita kepada murid tentang perjuangan saya dengan harapan mereka dapat meneladani dan mengambil pelajaran dari apa yang saya sampaikan. Bahwa sesuatu dapat dicapai bukan karena iming-iming penghargaan atau hadiah namun selain karena takdir Allah SWT pada diri kita, juga karena usaha dan kerja keras untuk mencapainya.
TUGAS 2.2 (3)
Bila di sekolah Anda tidak ada peraturan yang mengharuskan guru datang tepat waktu dan tidak ada surat teguran bagi guru yang datang terlambat, dan tidak ada atasan yang memuji Anda, apakah Anda akan tetap datang tepat waktu untuk mengajar murid-murid Anda? Jelaskan alasan Anda.
Pembelajaran di sekolah terlaksana karena ada kesepakatan baik itu dengan pemangku pendidikan di atas sekolah, kepala sekolah, rekan guru, tenaga lainnya bahkan murid. Tertulis maupun tidak guru datang tepat waktu ke sekolah menurut saya sudah menjadi kewajiban untuk mematuhinya. Karena seharusnya kita sudah datang dan siap saat waktu yang ditentukan memberi pelayanan pembelajaran pada murid. Kecuali jika ada "udzur" boleh saja untuk terlambat yang penting hal tersebut dapat kita komunikasikan dengan kepala sekolah, rekan guru yang kita mintai tolong menggantikan kelas kita maupun pada murid kita sendiri. Perlu menanamkan dalam diri bahwa tindakan yang kita lakukan di sekolah bukan untuk mendapat pujian atasan atau dianggap keren oleh rekan namun melupakan hal tersebut dan mencoba untuk ikhlas menjalaninya. Tanpa memberi tahu pun orang lain secara tidak langsung dapat menilai diri kita. Tentu saja guru teladan tidak hanya dilihat dari rajinnya datang tepat waktu saja namun bagaimana melayani murid-muridnya.
TUGAS 2.2 (4)
Menurut Anda, dari ketiga jenis motivasi tadi, motivasi manakah yang saat ini paling banyak mendasari perilaku murid-murid Anda di sekolah? Jelaskan!
Terdapat tiga jenis motivasi yaitu 1) Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman; 2) Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain; 3) Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Dari ketiga jenis motivasi tersebut, yang paling banyak mendasari perilaku murid-murid saya di sekolah adalah untuk menghindari ketidaknyamanan/hukuman. Selain itu saya melihat sebagian murid yang juga memiliki motivasi Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Contohnya datang lebih pagi supaya dapat lebih puas bermain dan bercengkrama dengan temannya sebelum waktu pembelajaran dimulai.
TUGAS 2.2 (5)
Strategi apa yang selama ini Anda terapkan untuk menanamkan disiplin positif pada murid-murid anda, bagaimana hasilnya pada perilaku murid-murid Anda?
Strategi saya untuk menanamkan budaya positif pada murid adalah mengenalkan terlebih dahulu, memberi contoh kemudian menyepakati waktu dan hal penting lainnya. Berkomitmen untuk saling menjaga dan mengingatkan supaya budaya positif tersebut terus terjaga. Salah satu contoh kecil adalah mengurangi kebisingan suara di kelas saat pembelajaran. Jika ada murid yang ingin ke toilet tidak perlu memanggil guru dan menyebutkan keperluannya namun cukup memanggil dan membuat kode gerakan tubuh. Semua murid antusias untuk mencoba meskipun di awal masih kebalik-balik kodenya. Namun hasilnya luar biasa, murid menjadi lebih terkondisikan, pembelajaran di kelas pun berjalan maksimal.
TUGAS 2.2 (6)
Nilai-nilai kebajikan apa yang Anda berusaha tanamkan pada murid-murid Anda di kelas dan sekolah Anda?
Saya menginginkan murid-murid saya menjadi murid yang berprofil Pancasila. Sehingga saya berupaya memaksimalkan kekuatan semangat belajar, pantang menyerah, disiplin, totalitas dengan harapan mereka dapat mengambil pelajaran dan mencontoh nilai-nilai tersebut sehingga dapat melekat dalam dirinya yang secara tidak langsung membentuknya menjadi murid yang merdeka berprofil Pancasila. Aamiin
2.3 KEYAKINAN KELAS
Prosedur Pembentukan Keyakinan Kelas:
Mempersilakan murid-murid di kelas untuk bercurah pendapat tentang peraturan yang perlu disepakati di kelas.
Mencatat semua masukan-masukan para murid di papan tulis atau di kertas besar (kertas ukuran poster), di mana semua anggota kelas bisa melihat hasil curah pendapat.
Susunlah keyakinan kelas sesuai prosedur ‘Pembentukan Keyakinan Kelas’. Gantilah kalimat-kalimat dalam bentuk negatif menjadi positif.
Contoh
Kalimat negatif : Jangan berlari di kelas atau koridor.
Kalimat positif: Berjalanlah di kelas atau koridor.Tinjau kembali daftar curah pendapat yang sudah dicatat. Anda mungkin akan mendapati bahwa pernyataan yang tertulis di sana masih banyak yang berupa peraturan-peraturan. Selanjutnya, ajak murid-murid untuk menemukan nilai kebajikan atau keyakinan yang menjadi inti dari peraturan tersebut. Contoh: Berjalan di kelas, Dengarkan Guru, Datanglah tepat waktu bisa disarikan menjadi 1 Keyakinan, yaitu keyakinan untuk Saling Menghormati atau nilai kebajikan Hormat. Keyakinan inilah yang dijadikan daftar untuk disepakati. Kegiatan ini juga merupakan peralihan dari bentuk peraturan ke keyakinan kelas.
Tinjau ulang Keyakinan Kelas secara bersama-sama. Seharusnya setelah beberapa peraturan telah disatukan menjadi beberapa keyakinan maka jumlah butir pernyataan keyakinan akan berkurang. Sebaiknya keyakinan kelas tidak terlalu banyak, bisa berkisar antara 3-7 prinsip/keyakinan. Bilamana terlalu banyak, maka warga kelas akan sulit mengingatnya.
Setelah keyakinan kelas selesai dibuat, maka semua warga kelas dipersilakan meninjau ulang, dan menyetujuinya dengan menandatangani keyakinan kelas tersebut, termasuk guru dan semua murid.
Keyakinan Kelas selanjutnya bisa dilekatkan di dinding kelas di tempat yang mudah dilihat semua warga kelas.
Agar semua warga kelas dapat memahami setiap pernyataan yang telah tercantum dalam keyakinan kelas, maka selama seminggu di awal tahun ajaran baru dapat didedikasikan untuk pendalaman setiap keyakinan dengan berbagai kegiatan.
a) Kegiatan Tampak Seperti/Tidak Tampak Seperti:
Anggota kelas dibagi menjadi beberapa kelompok, dan setiap kelompok diberikan kertas. Salah satu anggota kelompok membuat hurut T kapital yang besar (Tabel T). Guru memberikan salah satu ‘keyakinan kelas’ kepada setiap kelompok. Dua kelompok bisa mendapatkan keyakinan yang sama bila ada 10 kelompok. Selanjutnya setiap kelompok diminta untuk bercurah pendapat tentang keyakinan tersebut, tampak seperti apa, tampak tidak seperti apa. Kemudian hasil curah pendapat setiap kelompok dipresentasikan pada kelompok besar, dan kertasnya ditempel di sekeliling dinding kelas untuk dapat dilihat setiap warga kelas agar menguatkan pemahaman.
Contoh
Tampak Seperti/Tidak Tampak Seperti (Tabel T) dari Keyakinan Kelas 7:
Salah satu kegiatan lain yang dapat dilakukan untuk memperdalam keyakinan kelas, adalah mempelajari tanggung jawab setiap warga kelas. Keyakinan bertanggung jawab serta hak seseorang adalah sesuatu yang diungkapkan oleh Ki Hadjar Dewantara tentang menumbuhkan murid yang merdeka:
“...beratlah kemerdekaan itu! bukan hanya tidak terperintah saja, akan tetapi harus juga dapat menegakkan dirinya dan mengatur perikehidupannya dengan tertib. dalam hal ini termasuklah juga mengatur tertibnya perhubungan dengan kemerdekaan orang lain (Ki Hadjar Dewantara, buku kuning, hal.4.)
Pada pekan pendalaman Keyakinan Kelas, maka murid-murid dapat diajak berdiskusi tentang tanggung jawab dan hak masing-masing warga kelas, yaitu apa Tugas Guru dan Bukan Tugas Guru serta Apa Tugas Murid atau Bukan Tugas Murid. Berikut adalah langkah yang dapat dilakukan dalam mendiskusikan hal tersebut:
- Guru akan membuat bagan berisi 4 kotak.
- Masing-masing kotak diisi judul: Guru-Tugasnya..., Murid-Tugasnya..., Guru-Tugasnya Bukan.., Murid-Tugasnya Bukan...
- Guru bercurah pendapat dengan dua cara:
- Mengajak murid berpendapat secara individu, atau
- Membagi murid dalam 4 atau 8 kelompok, dan setiap kelompok diberikan tugas bercurah pendapat tentang masing-masing tugas/bukan tugas guru maupun murid. - Hasil dari curah pendapat Tugas Saya-Tugas Kamu ditempel di dinding kelas agar dapat dilihat seluruh warga kelas.
Tugas Anda
Coba Anda lakukan kegiatan Tugas Saya-Tugas Kamu dengan murid-murid di sekolah Anda, atau bisa juga dilakukan dengan anak-anak Anda di rumah (menjadi: Tugas Orang Tua-Tugas Anak). Bercurah pendapat tentang tugas masing-masing warga kelas atau rumah untuk membangun lingkungan positif yang aman dan nyaman, yang selanjutnya menjadi suatu budaya positif.
Dalam menjalankan peraturan ataupun keyakinan kelas, bilamana ada suatu pelanggaran, tentunya sesuatu harus terjadi. Untuk itu kita perlu meninjau ulang penerapan penegakan peraturan atau keyakinan kelas kita selama ini. Penerapan terhadap suatu pelanggaran bisa dalam bentuk hukuman atau sanksi, atau berupa Restitusi. Namun sebelum kita melangkah kepada penerapan Restitusi, kita perlu bertanya adakah perbedaan antara hukuman dan Sanksi? Bila sama, di mana persamaannya? Bila berbeda, bagaimana perbedaannya? Perlu ditambahkan bahwa bentuk sanksi untuk lingkungan pendidikan disesuaikan menjadi konsekuensi. Pemahaman konsekuensi adalah bahwa dalam setiap tindakan atau perbuatan, pasti akan berkonsekuensi, baik atau kurang baik. Di bawah ini akan ditunjukkan bagan perbedaan hukuman dan konsekuensi serta restitusi.
Bila kita melihat bagan di bawah ini, disiplin merupakan identitas berhasil (sukses) dan hukuman merupakan identitas gagal. Disiplin di sini terbagi dua bagian yaitu Disiplin dengan Sanksi/Konsekuensi dan Disiplin dengan Restitusi, yang selanjutnya akan dijelaskan dengan lebih rinci di bagian 2.5 dan 2.6.
Berdasarkan bagan di atas, maka kita bisa menyimpulkan bahwa hukuman bersifat tidak terencana atau tiba-tiba. Anak atau murid tidak tahu apa yang akan terjadi, dan tidak dilibatkan. Hukuman bersifat satu arah, dari pihak guru yang memberikan, dan murid hanya menerima suatu hukuman tanpa suatu diskusi atau pengarahan dari pihak guru, baik sebelum atau sesudahnya. Hukuman yang diberikan bisa berupa fisik maupun verbal dan murid disakiti oleh suatu perbuatan atau kata-kata.
Sementara disiplin dengan bentuk sanksi atau konsekuensi, sudah terencana atau sudah disepakati. Sudah dibahas dan disetujui oleh murid dan guru. Biasanya pembentukan sanksi atau konsekuensi dibentuk oleh pihak guru (sekolah), dan murid sudah mengetahui sanksi/konsekuensi yang akan diterima. Pada sanksi/konsekuensi, murid tetap dibuat tidak nyaman untuk jangka waktu pendek. Konsekuensi atau sanksi biasanya diberikan berdasarkan suatu pengukuran, misalnya: setelah 3 kali ditegur di kelas oleh guru karena tugasnya belum selesai, atau mengobrol, maka murid akan kehilangan waktu bermain, dan harus menyelesaikan tugas karena ketertinggalannya. Peraturan ini sudah diketahui oleh murid dan diketahui sebelumnya. Guru senantiasa perlu memonitor murid.
Mencatat 100 kali di dalam buku kalimat, “Saya tidak akan terlambat lagi”, karena terlambat ke sekolah. (konsekuensi)
Lari mengelilingi lapangan basket 2 kali karena terlambat hadir di sekolah. (hukuman)
Membersihkan coretan yang dibuatnya di meja tulis. (konsekuensi)
Murid diminta untuk ‘push up’ 15 kali karena tidak menggunakan masker ke sekolah. (hukuman)
Menggantikan kertas tugas teman yang telah dicoret-coret. (konsekuensi)
Berjemur di lapangan basket pukul 12:00 siang karena mengobrol dengan teman. (hukuman)
Murid diminta bertelanjang kaki sepanjang hari karena tidak menggunakan sepatu warna hitam sesuai peraturan sekolah. (hukuman)
Berdiri di depan kelas sambil mengangkat kaki satu, karena tidak bisa menjawab pertanyaan. (hukuman)
Membersihkan tumpahan air di meja tulis karena tersenggol pada saat belajar. (konsekuensi)
Kehilangan 10 menit jam istirahat untuk mengerjakan tugas, karena terlambat datang dan tertinggal pelajaran selama 10 menit. (konsekuensi)
Duduk di bangku di pinggir lapangan pada jam istirahat, tidak diizinkan bermain oleh guru piket, karena mencederai teman saat bermain di lapangan. (konsekuensi)
Terlambat hadir di pembelajaran daring 15 menit, dan diminta untuk tinggal 15 menit sesudah kelas usai untuk membahas ketertinggalan pembelajaran. (konsekuensi)
Lari mengelilingi lapangan basket 2 kali karena terlambat 10 menit untuk pelajaran PJOK. (konsekuensi)
Membersihkan WC sekolah karena mematahkan pensil kawannya. (hukuman)
Dihukum oleh Penghargaan
Pertanyaan Pemantik:
Bacalah kasus Ibu Anas di bawah ini dan cobalah jawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan
Ibu Anas guru kelas 2 SD, mendapatkan masalah. Murid-muridnya tidak bisa tertib berdiri antri di depan pintu kelas, dan selalu berebutan masuk ke dalam kelas setelah jam istirahat usai. Ini tentunya sangat mengganggu proses pembelajaran dimana kelas tidak dapat mulai tepat waktu karena Ibu Anas sibuk menenangkan murid-muridnya untuk waktu cukup lama. Akhirnya Bu Anas berpikir cepat, dan mengandalkan stiker bintang. Setiap murid-muridnya akan masuk kelas usai jam istirahat, Bu Anas akan mengiming-imingi murid-muridnya dengan stiker bintang. “Siapa yang dapat berdiri lurus dan rapi antre di depan pintu, dapat bintang dari Bu Anas!” Sebagian murid-muridnya menyambut tantangan tersebut, dan langsung berdiri rapi di depan pintu diikuti teman-temanya yang lain, agar mendapatkan stiker bintang. Hal ini terus dilakukan Bu Anas selama beberapa minggu, karena cukup berhasil membuat murid-muridnya berdiri rapi antre di depan pintu. Sampai pada suatu saat Bu Anas sakit, dan terpaksa digantikan Pak Heru. Pak Heru tidak mengetahui tentang stiker bintang, dan benar saja, pada saat mau masuk ke kelas usai jam istirahat murid-murid kelas 2 kembali berebutan masuk kelas, tanpa antri, karena Pak Heru tidak memberikan stiker bintang.
Jawablah ketiga pertanyaan ini, dan berilah minimal 2 tanggapan terhadap jawaban rekan Anda.
- Menurut Anda apa yang terjadi pada cerita Ibu Anas dengan murid kelas 2?
- Berdasarkan teori motivasi yang telah Anda pelajari pada pembelajaran 2.2, kira-kira apa motivasi murid-murid kelas 2 untuk bersedia berdiri antri sebelum masuk kelas?
- Adakah cara lain agar murid kelas 2 bersedia antre di depan kelas tanpa diberi penghargaan stiker bintang?
Alfie Kohn (Punished by Rewards, 1993, Wawancara ASCD Annual Conference, Maret 1995) mengemukakan baik penghargaan maupun hukuman, adalah cara-cara mengontrol perilaku seseorang yang menghancurkan potensi untuk pembelajaran yang sesungguhnya. Menurut Kohn, secara ideal tindakan belajar itu sendiri adalah penghargaan sesungguhnya.
Kohn selanjutnya juga mengemukakan beberapa alasan mengapa penghargaan justru sama seperti menghukum seseorang.
Pengaruh Jangka Pendek dan Jangka Panjang
- Penghargaan berlaku untuk mendapatkan seseorang melakukan sesuatu dalam jangka waktu pendek.
- Jika kita menggunakan penghargaan lagi, dan lagi, maka orang tersebut akan bergantung pada penghargaan yang diberikan, serta kehilangan motivasi dari dalam.
- Jika kita mendapatkan penghargaan untuk melakukan sesuatu yang baik, maka selain kita senantiasa berharap mendapatkan penghargaan tersebut lagi, kita pun menjadi tidak menyadari tindakan baik yang kita lakukan.
Penghargaan Tidak Efektif
- Suatu penghargaan adalah suatu benda atau peristiwa yang diinginkan, yang dibuat dengan persyaratan: Hanya jika Anda melakukan hal ini, Anda akan mendapatkan penghargaan yang diinginkan.
- Jika saya mengharapkan suatu penghargaan dan tidak mendapatkannya, maka saya akan kecewa dan berkecil hati, serta kemungkinan lain kali saya tidak akan berusaha sekeras sebelumnya.
- Jika kita memberikan seseorang suatu penghargaan untuk melakukan sesuatu, maka kita harus terus menerus memberikan penghargaan itu jika kita ingin orang tersebut meneruskan perilaku yang kita inginkan.
- Orang yang berusaha berhenti merokok, atau orang yang berusaha diet menguruskan badan bila diberikan penghargaan tidak akan berhasil.
Penghargaan Merusak Hubungan
- Ketika seorang diberi penghargaan atau dipuji di depan orang banyak, maka yang lain akan merasa iri, dan sebagian dari mereka akan tidak menyukai orang yang diberikan penghargaan tersebut.
- Jika seorang guru sering memberikan penghargaan kepada murid-muridnya, besar kemungkinan murid-muridnya termotivasi hanya untuk menyenangkan gurunya. Mereka tidak akan bersikap jujur kepada guru tersebut.
- Penghargaan menciptakan persaingan di dalam kelas, dan persaingan menciptakan kecemasan.
- Mereka yang percaya bahwa mereka tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan penghargaan akan berhenti mencoba.
Penghargaan Mengurangi Ketepatan
Riset I: Dalam sebuah percobaan, sekelompok anak laki-laki berusia sekitar 9 tahun diminta untuk melihat gambar-gambar wajah yang ditampilkan di layar, dan mereka harus memberitahukan jika wajah-wajah tersebut sama atau berbeda. Gambar-gambar tersebut hampir sama. Beberapa dari mereka diberi penghargaan (dalam bentuk uang) pada saat mereka memberikan jawaban benar, sementara sebagian yang lain tidak.
Hasil: Anak laki-laki yang dibayar membuat lebih banyak kesalahan.
Riset II: Anak-anak diminta mengingat kata-kata tertentu, kemudian mereka diminta mengambil kartu yang berisi kata-kata yang diingat tersebut setiap kali muncul. Beberapa anak diberikan permen setiap mereka memberikan jawaban yang benar, dan sebagian yang lain hanya diberitahu saja bila jawaban mereka benar.
Hasil: Anak-anak yang mendapatkan permen jawabannya banyak yang tidak tepat dibandingkan anak-anak yang hanya diberitahu jawabannya benar.
Penghargaan Menghukum
- Penghargaan menghukum mereka yang tidak mendapatkan penghargaan. Misalnya dalam sistem ‘ranking’. Mereka yang mendapatkan ranking kedua akan merasa ‘dihukum’.
- Penghargaan dan hukuman adalah hal yang sama, karena keduanya mencoba mengendalikan perilaku seseorang.
- Karena orang pada dasarnya tidak suka dikendalikan, dalam jangka waktu lama, penghargaan akan terlihat sebagai hukuman.
- Jika suatu penghargaan diharapkan, namun Anda tidak mendapatkannya, Anda akan merasa dihukum.
Disadur dari materi pelatihan ‘Dihukum oleh Penghargaan’, Yayasan Pendidikan Luhur-Foundation for Excellence in Education, 2006.

0 Komentar