Minggu ketiga PPGP ini saya melaksanakan aksi nyata di kelas. Perubahan yang ingin saya tekankan dalam aksi nyata ini adalah menyesuaikan pembelajaran dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yaitu:
- · Menuntun
- · Ibarat menanam padi
- · Budi pekerti
- · Bermain
- · Berhamba pada anak
Kelima dasar pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara telah
coba saya praktiikan di kelas saya walaupun belum maksimal namun setidaknya ada
perubahan yang terjadi. Kegiatan tersebut telah menjadi kegiatan pembiasaan di
kelas saya, memang belum di semua kelas di sekolah. Oleh karena itu sebelum
saya mengusulkan untuk menjadi program pembiasaan di sekolah maka terlebih
dahulu saya harus mempraktikkannya terlebih dahulu di lingkup saya sendiri.
1.
Berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran
2.
Menulis Jurnal “My Habit Tracker”
Jurnal ini saya susun sendiri dengan tujuan untuk merekam aktivitas murid
dalam satu hari. Isi dari jurnal ini yaitu waktu, pelaksanaan sholat 5 waktu,
bersedekah, membaca buku, membantu orang tua, rencana kegiatan yang akan
dilakukan, dan hal-hal yang sudah dilakukan di minggu itu. Jurnal ini diisi
setiap hari. Jurnal saya cetak kemudian disusun dan dihias sendiri oleh murid
seperti buku kecil. Rencana saya nanti jurnal ini akan menjadi salah satu bahan
untuk pameran kelas akhir tahun ajaran nanti. Inshallah.
Jurnal masih dalam lingkup kelas. Harapan saya dengan saya memberikan pembiasaan
menulis jurnal kegiatan ini menjadi pemicu semangat untuk diterapkan juga di
kelas lainnya. Selain memberikan kenangan bagi murid ketika duduk di bangku
kelas tersebut, tanpa terasa dapat mengasah keterampilan menulis dan
meningkatkan kepekaan murid untuk berbuat lebih baik dari hari ke hari karena
mereka bisa berkaca dari apa yang telah dilakukan sebelumnya.
Untuk melihat jurnal My Habit Tracker dapat dilihat di sini
3.
Bekerja kelompok-berdiskusi-presentasi
Diskusi Kelas dan presentasi
Pembimbingan murid saat presentasi hasil
diskusi
Kegiatan diskusi kelompok sangatlah penting untuk meningkatkan
kolaborasi, komunikasi dan toleransi. Belajar bertanggung jawab terhadap peran
dan tugasnya dapat membantu meningkatkan
kemandirian dan kepercayaan dirinya. Kegiatan diskusi dalam foto berikut ini
saat mereka di minggu sebelumnya melaksanakan kegiatan diskusi kelompok di
rumah tentang Listrik. Setiap kelompok memiliki pembahasan yang berbeda. Mereka
menyiapkan bahan/materi sendiri dan menuliskannya di selembar kertas pelangi.
Di pertemuan selanjutnya murid diminta untuk melakukan presentasi kelompok.
Presentasi ini tentu saja harus dengan bimbingan guru. Mendorongnya untuk
melakukan presentasi dengan runtut, membuka acara, menyapa, presentasi hasil,
mempersilakan teman kelompok lain untuk bertanya, menanggapi dan menutup
diskusi. Di kelas saya, murid masih belum bisa diskusi dengan baik karena masih
merasa malu untuk menyampaikan pendapat di depan kelas. Hal ini karena saya
amati mereka di tingkat sebelumnya mungkin belum terbiasa untuk melakukannya.
Oleh karena itu, perlahan saat ini saya biasakan supaya mereka makin percaya
diri dan belajar bersama teman-temannya dalam ruang diskusi.
4.
Membebaskan murid untuk berkreasi
Dalam satu tema setidaknya minimal ada satu proyek yang harus dibuat murid. Proyek yang dibuat sendiri maupun kelompok sesuai dengan kebutuhan materi, waktu dan lain-lain. Misalnya dalam pembuatan proyek rangkaian listrik saya berupaya untuk memberikan kelonggaran pengerjaannya. Bebas asalkan tetap memenuhi kriteria tugas. Misalnya untuk proyek pembuatan rangkaian listrik seri-paralel murid bekerja di rumah. Mengingat waktu pembelajaran yang hanya terbatas di sekolah saat masa PTMT ini sehingga aktivitas kelompok dialihkan di rumah.
Praktik menari tradisional.
Saya pun memberikan arahan bahwa tarian harus
disepakati kelompok. Pertama mereka mencari tariannya, mengidentifikasi
ciri-cirinya dan mempraktikkannya. Karena ada sebagian siswa yang merasa
keberatan untuk kelompokan bersama karena rumah jauh maka saya longgarkan untuk
melakukan praktik menari sendiri. Murid menyetel musik, menari dan merekam
dengan smartphonenya. Berdasarkan refleksi pribadi saya, tugas yang saya
berikan dengan model seperti ini bisa membuat siswa berpikir kreatif. Saya
tetap memberikan pembimbingan dan memandu jika mereka menemui kesulitan
selebihnya mereka berproses sendiri. Selain itu murid menjadi lebih mandiri dan
bisa belajar untuk saling menghargai orang lain.
5.
Bermain permainan tradisional
Permainan bambu vs pring
Permainan betengan
Di hari Sabtu ini 6 Nopember 2021 ada jadwal PJOK di kelas kami. Saya sudah merencanakan di hari sebelumnya bahwa hari ini akan mengajak murid bermain setelah kemarin belajar matematika yang sepertinya membuat mereka lelah dengan angka dan kelas. Hari ini juga kebetulan guru PJOK kami ada kegiatan di kantor sehingga kelas saya ambil alih. Kemarin murid saya bagi menjadi dua kelompok besar, laki-laki dan perempuan. Mereka hompimpa untuk menentukan pemimpin senam di sesi olahraga hari ini.
Di hari Sabtu, mereka saya beri arahan di kelas terlebih dahulu kemudian
membawa mereka ke lapangan. Pemimpin kelompok akan memanggil anggotanya dengan
teriakan khas, pun demikian dengan anggotanya akan menjawab kemudian berlari
untuk berbaris di samping pemimpin regu. Setelah rapi barulah mereka meminta
untuk berlari mengelilingi lapangan 5 kali dan senam sesuai gerakan yang
dicontohkan pemimpin kelompok.
Masuk ke sesi bermain. Permainan yang saya mainkan dengan murid adalah
“bambu vs pring”. Murid berlatih untuk fokus, strategi, ketelitian, dan
kecepatan untuk berpindah posisi tanpa harus membuat sapu yang dipegangnya
rubuh.
Ada dua siswa yang kesulitan melakukannya. Kebetulan siswa tersebut memang
dalam kesehariannya membutuhkan pendampingan sehingga pada saat permainan ini
saya mencoba berulang-ulang dipraktekkan pada kelompoknya supaya dapat memahami
dengan baik alur permainan. Alhamdulillah dengan berulang kali mencoba akhirnya
murid saya tersebut lebih paham dan bisa memainkan lebih baik dari sebelumnya.
Setelah semua kelompok mempraktikkan, saya meminta mereka untuk bermain
“betengan”. Permainan untuk merebut pemain dan menjaga markas supaya tidak
direbut oleh musuh.

0 Komentar